teks bergerak ke kanan

hei.. selamat datang di blog ku,jangan lupa di follow ...

Rabu, 30 April 2014

"Kisah Seorang Nenek Penjual Tempe"

Foto: "Kisah Seorang Nenek Penjual Tempe" 

Sist.. mungkin kamu sudah pernah baca cerita ini, tp temanmu mungkin blm baca sist, shar3 yaa..

Tuhan selalu punya jawaban atas doa seseorang. Jawaban doa itu bisa iya, bisa tidak, atau.. Tuhan punya rencana yang lebih baik untuk umat-Nya, seperti dalam kisah berikut ini.

Di sebuah pinggir kota, hidup seorang nenek yang hidup seorang diri. Untuk dapat menyambung hidup, nenek tersebut berjualan tempe setiap hari. Pada suatu hari, sang nenek terlambat memberi ragi, sehingga tempe tidak matang tepat pada waktunya. Saat daun pisang pembungkus tempe dibuka, kedelai-kedelai masih belum menyatu. Kedelai tersebut masih keras dan belum menjadi tempe.

Hati sang nenek mulai menangis. Apa yang harus dilakukan? Jika hari ini dia tidak bisa menjual tempe tersebut, maka dia tidak akan dapat uang untuk makan dan membeli bahan tempe untuk esok hari. Dengan air mata yang masih mengalir, sang nenek mengambil wudhu lalu salat Subuh di rumahnya yang sangat kecil dan memprihatinkan.

"Ya Allah, tolong matangkan tempe-tempe itu. Hamba-Mu tidak tahu harus berbuat apalagi untuk menyambung hidup dengan cara yang halal. Hamba tidak ingin menyusahkan anak-anak hamba. Kabulkan doa hamba-Mu yang kecil ini ya Allah.." demikian doa sang nenek dengan linangan air mata.

Setelah selesai salat Subuh, sang nenek membuka daun pisang pembungkus tempe, tidak ada satupun yang matang. Keajaiban belum datang, doanya belum dikabulkan. Tetapi sang nenek percaya jika doanya akan terkabul, sehingga dia berangkat ke pasar saat matahari belum bersinar, mengejar rezeki dengan menjual tempe.

Sesampai di pasar, sang nenek kembali membuka pembungkus tempe. Masih belum matang. Tak apa, nenek tersebut terus menunggu hingga matahari bersinar terik. Satu persatu orang yang berbelanja berlalu lalang, tetapi tak ada satupun yang mau membeli tempe sang nenek. Matahari terus bergerak hingga para pedagang mulai pulang dan mendapat hasil dari berjualan.

Tempe dagangan penjual lain sudah banyak yang habis, tetapi tempe sang nenek tetap belum matang. Apakah Tuhan sedang marah padaku? Apakah Tuhan tidak menjawab doaku? Begitulah rintihan hati sang nenek, air matanya kembali mengalir.

Tiba-tiba, ada seorang ibu yang menghampiri sang nenek. "Apakah tempe yang ibu jual sudah matang?" tanya sang pembeli.

Sang nenek menyeka air mata lalu menggeleng, "Belum, mungkin baru matang besok," ujarnya.

"Alhamdulillah, kalau begitu saya beli semua tempe yang ibu jual. Daritadi saya mencari tempe yang belum matang, tetapi tidak ada yang menjual. Syukurlah ibu menjualnya," ujar sang pembeli dengan suara lega.

"Kenapa ibu membeli tempe yang belum matang?" tanya sang nenek dengan heran. Semua orang selalu mencari tempe yang sudah matang.

"Anak laki-laki saya nanti malam berangkat ke Belanda, dia ingin membawa tempe untuk oleh-oleh karena di sana susah mendapat tempe. Kalau tempe ini belum matang, maka matangnya pas saat anak saya sampai ke Belanda," ujar sang ibu dengan wajah berbinar.

Inilah jawaban atas doa sang nenek. Tempe-tempe itu tidak langsung matang dengan keajaiban, tetapi dengan jalan lain yang tidak dikira-kira. Ingatlah sahabat, Tuhan selalu punya jawaban terbaik untuk doa umat-Nya. Kadang sebuah doa tak langsung mendapat jawaban. Kadang doa seseorang tidak dijawab dengan 'iya' karena Tuhan selalu punya rencana terbaik untuk hamba-Nya.

Silahkan share & bagikan ke temen-temen ya sist, biar semakin banyak yang tahu dan tulisan ini menjadi lebih banyak bermanfaat serta berikan komentarnya.

Add Pin BBM kami ya sist 754CFB36Sist.. mungkin kamu sudah pernah baca cerita ini, tapi temanmu mungkin belum baca sist, share yaa..

Tuhan selalu punya jawaban atas doa seseorang. Jawaban doa itu bisa iya, bisa tidak, atau.. Tuhan punya rencana yang lebih baik untuk umat-Nya, seperti dalam kisah berikut ini.

Di sebuah pinggir kota, hidup seorang nenek yang hidup seorang diri. Untuk dapat menyambung hidup, nenek tersebut berjualan tempe setiap hari. Pada suatu hari, sang nenek terlambat memberi ragi, sehingga tempe tidak matang tepat pada waktunya. Saat daun pisang pembungkus tempe dibuka, kedelai-kedelai masih belum menyatu. Kedelai tersebut masih keras dan belum menjadi tempe.

Hati sang nenek mulai menangis. Apa yang harus dilakukan? Jika hari ini dia tidak bisa menjual tempe tersebut, maka dia tidak akan dapat uang untuk makan dan membeli bahan tempe untuk esok hari. Dengan air mata yang masih mengalir, sang nenek mengambil wudhu lalu salat Subuh di rumahnya yang sangat kecil dan memprihatinkan.

"Ya Allah, tolong matangkan tempe-tempe itu. Hamba-Mu tidak tahu harus berbuat apalagi untuk menyambung hidup dengan cara yang halal. Hamba tidak ingin menyusahkan anak-anak hamba. Kabulkan doa hamba-Mu yang kecil ini ya Allah.." demikian doa sang nenek dengan linangan air mata.

Setelah selesai salat Subuh, sang nenek membuka daun pisang pembungkus tempe, tidak ada satupun yang matang. Keajaiban belum datang, doanya belum dikabulkan. Tetapi sang nenek percaya jika doanya akan terkabul, sehingga dia berangkat ke pasar saat matahari belum bersinar, mengejar rezeki dengan menjual tempe.

Sesampai di pasar, sang nenek kembali membuka pembungkus tempe. Masih belum matang. Tak apa, nenek tersebut terus menunggu hingga matahari bersinar terik. Satu persatu orang yang berbelanja berlalu lalang, tetapi tak ada satupun yang mau membeli tempe sang nenek. Matahari terus bergerak hingga para pedagang mulai pulang dan mendapat hasil dari berjualan.

Tempe dagangan penjual lain sudah banyak yang habis, tetapi tempe sang nenek tetap belum matang. Apakah Tuhan sedang marah padaku? Apakah Tuhan tidak menjawab doaku? Begitulah rintihan hati sang nenek, air matanya kembali mengalir.

Tiba-tiba, ada seorang ibu yang menghampiri sang nenek. "Apakah tempe yang ibu jual sudah matang?" tanya sang pembeli.

Sang nenek menyeka air mata lalu menggeleng, "Belum, mungkin baru matang besok," ujarnya.

"Alhamdulillah, kalau begitu saya beli semua tempe yang ibu jual. Daritadi saya mencari tempe yang belum matang, tetapi tidak ada yang menjual. Syukurlah ibu menjualnya," ujar sang pembeli dengan suara lega.

"Kenapa ibu membeli tempe yang belum matang?" tanya sang nenek dengan heran. Semua orang selalu mencari tempe yang sudah matang.

"Anak laki-laki saya nanti malam berangkat ke Belanda, dia ingin membawa tempe untuk oleh-oleh karena di sana susah mendapat tempe. Kalau tempe ini belum matang, maka matangnya pas saat anak saya sampai ke Belanda," ujar sang ibu dengan wajah berbinar.

Inilah jawaban atas doa sang nenek. Tempe-tempe itu tidak langsung matang dengan keajaiban, tetapi dengan jalan lain yang tidak dikira-kira. Ingatlah sahabat, Tuhan selalu punya jawaban terbaik untuk doa umat-Nya. Kadang sebuah doa tak langsung mendapat jawaban. Kadang doa seseorang tidak dijawab dengan 'iya' karena Tuhan selalu punya rencana terbaik untuk hamba-Nya.




Silahkan share & bagikan ke temen-temen ya sist, biar semakin banyak yang tahu dan tulisan ini menjadi lebih banyak bermanfaat serta berikan komentarnya.

Jumat, 18 April 2014

Renungan Ibu

Yuk sejenak kita merenungkan apa saja sih yang sudah kita berikan yang kita lakukan untuk kedua orang tua kita, terutama untuk ibu. Apakah yang kita lakukan sudah membuat beliau bahagia ? Apakah kita sudah menjadi seorang anak yang beliau banggakan ? Apakah kita benar-benar sudah tidak membuat ibu kita menangis lagi karna ucapan atau sikap kita yang kadang tidak sengaja menyakiti beliau?

 

Coba kita ingat kembali, begitu sabar nya beliau membesarkan, mendidik dan menjaga kita sampai saat ini.  - Saat kita ceroboh seperti tidak sengaja menumpahkan makanan atau tidak sengaja kita memecahkan gelas,tetapi beliau hanya berkata '' hati-hati ya nak'' dengan senyum lembutnya. sedangkan kalau ibu kita yang melakukan kesalahan seperti itu kita malah marah-marah .
- Saat aku masih kecil, ibu dengan sabar membantu dan mengajari ku untuk berjalan . tapi ketika nanti ibu kita sudah tua , sudah susah untuk berjalan apakah aku mampu sabar seperti ibu untuk selalu membantunya ?
- Saat aku merengek meminta balon, aku akan terus mengulangi apa yang aku mau dan aku akan berulang-ulang meminta sampai aku mendapatkan yang aku inginkan tapi ibu tetap mendengarkan ku dan tidak marah sedikitpun. tapi ketika ibu selalu mengatakan hal yang sama berulang kali,aku pasti akan marah.
- Ibu juga selalu mendengarkan apapun yang aku ceritakan tentang mainan ku, tapi saat ibu  bercerita tentang hal yang tidak menarik buat ku , aku tidak pernah mendengarkan nya.
- Ibu selalu sabar merawat ku waktu kecil . Apa aku bisa seperti ibu sabar merawat ibu saat ibu sudah tua nanti ?

Aku memang tidak memiliki hati sesabar ibu. Aku juga tidak bisa menghilangkan keegoisan ku dengan mudah seperti ibu. Aku juga tidak sekuat ibu.
Tapi jangan khawatir bu, aku janji aku yang akan merawat ibu saat ibu sudah tua nanti, aku akan selalu ada buat ibu kapanpun ibu mau. 

Maaf kan aku ibu yang selalu membantah perintahmu, yang selalu tidak mendengarkan nasihatmu, yang selalu menyakitimu dengan semua ucapan dan sikap ku yang kasar kepadamu dan terkadang membuatmu menangis. tapi dibalik itu semua aku sayang sama ibu, cuma aku gatau bagaimana cara ungkapin rasa cinta aku sama ibu. Tapi percayalah ibu aku selalu berusaha menjadi anak yang bisa ibu banggakan, yang bisa menaikkan derajat ibu. Tapi tetap dibalik keberhasilan ku pasti ada sosok seorang ibu :)

Jadi bahagiakan lah ibu mu selagi ibu mu masih ada, jangan biarkan setetes air mata kesedihan menetes dari mata ibu mu. sayangilah beliau. lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata “MENYESAL” di kemudian hari. Dan jika ibu mu sudah tiada, teruslah panjatkan doa untuknya , agar diberi kebahagian selalu dan ditempatkan di tempat yang nyaman (surga) amin ... :)

 


Kebohongan yang sering ibu lakukan di depan anaknya

Tanpa kita sadari selama ini seorang ''ibu'' selalu banyak membuat kebohongan kepada anak nya.
Tapi kebohongan dalam hal apa ? Apakah ibu kita akan mendapatkan dosa akibat kebohongan-kebohongan yang beliau ucapkan ?

Inilah kebohongan yang sering dilakukan ibu di depan anak nya :

Ketika makan, ibu sering memberikan porsi
nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata :
“Makanlah nak, aku tidak lapar” ———- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Setelah sang anak masuk SMP, demi membiayai sekolah sang anak, si ibu pergi ke koperasi dengan membawa sejumlah korek api untuk di tempel. Dari sanalah, ibu mendapatkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim hujan tiba, sang anak bangun dari tempat tidurnya, melihat sang ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api. Sang anak berkata padanya,
”Bu, tidurlah, sudah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.”
sang Ibu tersenyum dan berkata,
”Cepatlah tidur nak, aku tidak lelah”. KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA
Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemani sang anak pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, sang ibu yang tegar dan gigih menunggu sang anak di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi menandakan ujian sudah selesai, Ibu dengan segera menyambut anaknya  dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untuk sang anak. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, sang anak segera memberikan gelasnya untuk ibunya sambil menyuruhnya minum. Namun sang Ibu berkata,
“Minumlah nak, aku tidak haus!”. KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap peran sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup seorang diri. Kehidupan keluarga mereka pun semakin payah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang tetangga yang baik hati berkenang membantu sang ibu baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang melihat kehidupan mereka yang begitu sengsara, seringkali menasehati sang ibu untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, berkata,
“Terima kasih, saya tidak butuh cinta”. KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT
Setelah sang anak serta saudara2 sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua, sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu satu ini tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk berjualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Anak2nya yang lain yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan sang ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim kembali uang tersebut. Dan  berkata,
“aku punya uang”. KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA

Setelah lulus dari S1, sang anak pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika Serikat berkat beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya akusang anak pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, ia bermaksud membawa ibunya untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepada sang anak,
“Aku tidak terbiasa”. KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM.

Setelah memasuki usianya yang tua, sang ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, sang anak yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibundanya tercinta. ia melihat ibunya yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibunya yang keliatan sangat tua, menatap sang anak dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh sang ibu sehingga sang ibu terlihat lemah dan kurus kering. Sang anak menatap ibunya sambil berlinang air mata. Hatinya perih, sakit sekali jika kita melihat ibu kita dalam kondisi seperti itu. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata,
“Jangan menangis anakku, aku tidak kesakitan”, KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH

Dan setelah mengucapkan kebohongannya yang ketujuh, ibu sang anak tercinta pun menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.

Dari cerita tersebut, penahkah kita merenungkan apa yang telah kita berikan untuk ibu kita? Pernahkah kita mengucapkan kata “Terima Kasih” kepadanya? Sudah tahukah kita bagaimana keadaan ibu kita sekarang? Pernahkah kita mencemaskan ibu kita? Apakah yang di makannya hari ini? Apakah ia punya masalah? Pernahkah kita berdo’a untuknya?memohon keselamatan dan kesehatan untuknya?

Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita.
Tapi, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari orang tua kita?
Cemas apakah orang tua kita sudah makan atau belum? Cemas apakah orang tua kita sudah bahagia atau belum?
Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi orang tua
kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata “MENYESAL” di kemudian hari.


Arti Seorang Ibu

 Selamat malam .....
    
   Kali ini saya akan membahas hal yang paling sensitif yaitu tentang ''ibu''. Kenapa saya bilang hal yang paling sensintif ? karna saya gampang banget nangis kalau udah ngebahas yang berhubungan dengan orang tua terutama ''ibu'' .  

   Dimataku, ibu adalah segalanya.Ibu adalah dua sosok yang tidak pernah lepas dari kehidupan kita. Tanpa sosok Ibu kita tidak akan pernah ada di dunia ini. Bahkan banyak orang-orang hebat yang tidak akan pernah bisa menjadi hebat tanpa didukung dengan sosok ibu yang hebat di belakangnya. 

   Cobalah kita bayangkan, seorang ibu berjuang selama berbulan – bulan ( ada yang  9 bulan bahkan lebih ) membawa kita kemana – mana sewaktu kita masih di dalam rahim. Hingga  mempertaruhkan nyawanya saat melahirkan kita. Tapi Saat kita lahir, apa yang kita bawa?kita hanya telanjang tanpa sehelai benang menempel di tubuh kita. Kita menangis histeris dan disekitar terlihat senyum senang dan bahagia. Apalagi raut muka mama yang tersenyum walau badannya lemas dan tak berdaya lagi. Kemudian diwaktu kecil kita makan disuapin, pakaian dipakaikan, kalau kita buang air besar ibu kita dengan sabar mengganti popok kita, ketika kita sakit mereka sibuuk mencarikan obatnya bahkan sampai tidak bisa tidur siang malam.Disaat kita sudah beranjak remaja, kita disekolahkan dengan biaya yang tidak sedikit, bahkan orang tua kita sampai rela menghutang demi anaknya sekolah yang tinggi dan Saat kita berangkat, Ibu tersenyum dan berkata di dalam hati "Dia akan menjadi orang sukses melebihi kesuksesan orang tua, Aamiin". Orang tua kita sangat bangga pada kita dan berharap kita menjadi orang yang sukses kelak. Subhanallah pengorbanan mereka, tidak mungkin kita bisa membalasnya.

   Saat dewasa,orang tua kita juga mulai bertambah tua. Kebutuhan kita semakin banyak. Kita banyak menuntut pada orang tua untuk membeli barang ini barang itu dikarenakan gengsi kita kepada teman sebaya kita. Kita tidak mau tau apa yang dilakukan Orang tua kita, yang penting kita mendapatkan apa yang kita inginkan. Orang tua kita berusaha mengumpulkan uang untuk memenuhi keinginan kita. Karena yang mereka inginkan adalah kebahagiaan kita.

   Namun, kita hanya slalu menuntut untuk mendapatkan barang yang kita inginkan tanpa ada cukupnya. Orang tua kita hanya bisa menangis di dalam hati saat kita meminta barang yang kita inginkan dengan membentak bentak dan kita memilih mendiamkan orang tua kita karena merasa orang tua kita tidak mampu memenuhi kebutuhan kita. Namun orang tua kita selalu berusaha dan berusaha untuk membuat kita tersenyum. Mungkin kita selalu berpikir "kewajiban orang tua menuruti apa yang anak minta dan membahagiakan anaknya" atau "Orang tua mencari uang buat siapa kalo bukan buat anaknya". Pikiran kita itu salah,orang tua kita juga perlu kebahagiaan.

Tapi Apa yang sudah kita beri ke orang tua kita?
apa kita selalu mendoakan mereka seperti mereka mendoakan kita?
Saat ini kita selalu mendapatkan apa yang kita inginkan dari orang tua kita. Kita masih selalu mengandalkan orang tua kita. Tapi orang tua kita tak selamanya mendampingi kita. Saat usia orang tua kita semakin bertambah dan akhirnya malaikat menjemput mereka. Kita hanya bisa menangis dan menyesal. Hidup kita yang serba dicukupi oleh orang tua kita kini sudah tidak lagi.
 
Jika itu terjadi. Kapan saat saat kita membuat orang tua kita bahagia?
Kapan saat saat membuat orang tua kita bangga atas tindakan kita?
 
 Berikut ini adalah video yang dapat menyentuh hati kita, dan membuat kita meneteskan air mata.


Oleh karena itu selagi kita mampu, selagi kita punya kesempatan untuk membahagiakan orang tua, marilah kita bahagiakan mereka di dunia ini. Apapun yang mereka inginkan selama kita bisa memberikan di dunia ini, maka kita harus memberikanya. Jangan sampai ada kata ''MENYESAL'' Di kemudian hari.